Mengenal Pejuang Tak Tercatat, Si Patai dan Perjuangannya

×

Mengenal Pejuang Tak Tercatat, Si Patai dan Perjuangannya

Bagikan berita
Mengenal Pejuang Tak Tercatat, Si Patai dan Perjuangannya
Mengenal Pejuang Tak Tercatat, Si Patai dan Perjuangannya

Maka kepala yang terpenggal itu ditusuk pada ujung tombak. Pasukan marsose yang tubuhnya dilumur cat hitam mengarak penggalan kepala itu berkeliling kota sambil menari dan berteriak-teriak gembira, diiringi genderang yang dipalu terus menerus.

Semua rakyat keluar dari rumah masing-masing melihat arak-arakan itu. Mana yang merasa ngeri kembali lagi tergesa-gesa masuk ke rumahnya. Ada perempuan yang jatuh pingsan demi melihatnya. Kisah hebat Si Patai tamat.

“Hari itu kota Padang menjadi gempar,” kenang Hasjim Ning yang menyaksikan arak-arakan itu, sebagaimana dicuplik dari buku Pasang Surut Pengusaha Pejuang—Otobiografi Hasjim Ning karya A.A Navis.

“Si Patai adalah kepala pemberontak melawan Belanda. Ia telah banyak membunuh tentara dengan parangnya. Tentara akan gentar dan lari lintang pukang bila berhadapan dengannya,” kata saudagar terkemuka dari zaman Sukarno hingga Suharto itu. Waktu jasad Si Patai diarak, Hasjim kanak-kanak. Tapi dia masih ingat.

Namun, ada cerita lain, kalau Si Patai bukanlah orang yang dipenggal. Sebab, Tuanku Laras yang kenal dengan Si Patai dan tahu bahwa kepala itu bukan kepala Si Patai, melapor kepada residen, bahwa komandan tentera itu telah salah penggal.

“Biar saja. Pokoknya perintah Betawi sudah dilaksanakan. Habis perkara. Orang di Betawi toh tidak akan tahu mana Si Patai yang sebenarnya.” kata Residen.

“Tapi, Tuan Besar, apabila Paduka Tuan Besar di Betawi tahu Si Patai yang sesunggunya belum mati, celaka kita.” kata Tuanku Laras.

“Bukan kita. Tapi kamu yang celaka.” kata Residen sambil menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya.

Oleh laporan yang dibuat residen ke Betawi, resmilah Si Patai dinyatakan mati. Sedangkan tak lama kemudian Tuanku Laras, yang tahu persoalan yang sebenarnya, dipecat dengan tuduhan penggelapan uang pajak. Tak lama kemudian Tuanku Laras jatuh sakit. Kata orang sakit muno. Sakit orang berkuasa yang kehilangan jabatannya secara tiba-tiba. Sakit kehilangan harga diri.

Untuk menghindari desas-desus salah bunuh itu, residen memerintahkan seluruh pegawainya, tidak lagi membicarakan tokoh yang bernama Si Patai. Sebuah koran secara bersambung mengisahkan suksesnya operasi tentera menumpas gerombolan Si Patai.

Editor : Redaksi
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini