Situs Cagar Budaya Vihara Tri Dharma ( Klenteng See Hin Kiong ), Kota Padang

×

Situs Cagar Budaya Vihara Tri Dharma ( Klenteng See Hin Kiong ), Kota Padang

Bagikan berita
Situs Cagar Budaya Vihara Tri Dharma ( Klenteng See Hin Kiong ), Kota Padang
Situs Cagar Budaya Vihara Tri Dharma ( Klenteng See Hin Kiong ), Kota Padang

Klenteng See Hin Kiong berada di lahan seluas 27.3x20.5 (559,65 m²). Bangunan kelenteng berukuran 15.5x15.5 (240,25 m²). Klenteng ini bernama Shee Hin Kiong (Vihara Tri Dharma) yang merupakan tempat beribadah tiga kepercayaan, yaitu : Tao, Konfusionisme, dan Agama Buddha, dengan Dewa Utama pada klenteng ini adalah Dewi Kwam In.

Klenteng ini dulunya bernama Klenteng Hoet Tjo. Pada bangunan ini ditemukan prasasti yang menyebutkan pendirian ulang bangunan Klenteng yang pernah terbakar sebelumnya pada tahun 1861.

Batu peringatan  tersebut  bertanggalkan  Khong  Soe  23  tahun  Theng  Yoe/  tahun Belanda 1897, didirikan oleh Lie Goan Hoat sebagai Majoor Titulair dan di kepalai oleh Thaij Tjeng Kok Kho Hong Tjoe Tjeng Thaij Hoe.

Klenteng See Hien Kiong, yang secara harafiah diartikan "Siapa diantara mereka itu yang keliru pikirannya, disanalah tempat ia pergi bertenang, bagi orang yang sakit boleh bertanya obat apa harus diambil, orang berdagang bisa beruntung dan orang dalam negeri memperoleh selamat".

Klentang yang didominasi warna merah dan kuning ini terdiri atas tiga bagian ruang, ruang utama pada bagian tengah, ruang semedi pada sisi kanan, dan ruang kantor pada sisi kiri bangunan.

Bangunan ini memiliki atap khas arsitektur Cina berbentuk pelana dengan bumbungan atas berbentuk ujung meliuk dihiasi mutiara di dalam sinar matahari serta naga. Atap tersebut berwarna merah dan variasi dengan warna hijau, sebelumnya atap berwarna merah yang divariasi dengan warna emas.

Pembagian ruang pada klenteng tersebut dapat terlihat dari bagian luar, dengan batas dinding yang terdapat pada depan bangunan, ketika memasuki bagian utama ruangan dapat ditemukan hiasan dua panel berbentuk segi empat yang berisikan tulisan Cina, pada ambang pintu bagian depan juga terdapat papan nama yang ber-aksarakan Cina.

Pintu bagian depan memiliki pilar dari batu-berukir, masing-masing pilar dijaga oleh patung singa. Pada bagian halaman dapat ditemui dua buah jinlu yang merupakan tempat pembakaran kertas persembaha, selain itu juga dapat ditemukan tempayan yang berfungsi sebagai tempat menancapkan hio.

Pasca gempa tahun 2009 kerusakan yang ada sekitar 50 %, berupa plesteran yang berjatuhan, ruang kanan kiri klenteng runtuh, genteng, plafon, ornament dinding.

Saat ini, bangunan klenteng sebahagian telah runtuh tahun bulan Juni 2016, saat sekarang belum ada upaya terkait dengan upaya untuk merehab dan/atau pembangunan kembali bangunan yang runtuh.

Editor : Redaksi
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini